اتّبعوا ولا تبتدعوا فقد كفيتم

Jalan Hidup Terbaik Adalah Jalan Di Atas As-Sunnah

Mengangkat Tangan Saat Berdo’a: Antara Pengagum dan Pencela (Bagian-1)

Tinggalkan komentar


Pernah suatu ketika saya menyampaikan sebuah khutbah jum’at tentang adab-adab berdo’a dan bagaimana caranya agar do’a tersebut dikabulkan oleh Alloh Ta’ala. Di antara yang saya sebutkan saat itu adalah bahwasannya mengangkat tangan saat berdo’a adalah salah satu sebab terkabulnya do’a, lalu saya menyebutkan beberapa hadits shohih yang berhubungan dengan masalah ini yang dalam perkiraan saya insya Alloh diterima oleh orang-orang yang ingin mencari kebenaran. Namun ternyata buntutnya melenceng dari yang saya bayangkan sebelumnya. Hujatan, celaan, sindiran atau lainnya yang semisal banyak berdatangan.

Sebagian dari mereka mengatakan : “Khutbah tadi akan membuat organisasi lain bertepuk tangan kegirangan.” Ada lagi yang mengatakan : “Kalau memang itu benar, lalu kenapa para kyai-kyai warok (besar) itu tidak pernah mengajarkannya ?” Ada lagi yang lebih lucu mengatakan : “Kalau ingin menyampaikan masalah seperti itu harus dimusyawarahkan terlebih dahulu.” dan masih banyak lagi.

Itu mungkin hanya salah satu contoh kasus yang berhubungan dengan masalah mengangkat tangan yang ada ditengah masyarakat kita. Yang paling tidak menunjukkan adanya dua kutub yang saling bersebrangan. Yang satu sangat mengkultuskan angkat tangan dalam berdo’a, sehingga semua do’a dalam semua keadaan harus dengan mengangkat tangan. Disisi lainnya ada yang sangat apriori dengan angkat tangan seakan-akan itu bukan merupakan bagian dari ajaran islam, dengan sedikit berkilah : “Apakah Alloh Ta’ala tidak tahu permintaan kita, sehingga butuh angkat tangan ? “

Dalam perkiraan saya bahwa kejadian semacam ini bukan didaerah saya saja, tapi juga terjadi pada daerah-daerah lainnya di bumi nusantara ini, oleh karena itu di dorong untuk saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran serta mendudukkan masalah pada tempat yang sebenarnya, maka saya kemukakan hal ini tanpa ada tendensi untuk membela atau mencela golongan tertentu, namun semuanya berdasar pada Al Kitab dan As Sunnah dengan pemahaman para ulama’ salaf kita. Karena memang kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa ahlus sunnah adalah orang yang paling mengetahui kebenaran dan yang paling kasih sayang pada sesama.

Dan saya mengajak kepada segenap kaum muslimin agar memahami masalah ini dengan kepala dingin, tinggalkan semua ta’ashub dan fanatik madzhab, golongan, tokoh dan lainnya. Kembalilah pada firman Alloh Ta’ala (yang artinya) :

“Hai orang-orang yang beriman, Ta’atilah Alloh dan ta’atilah rosul Nya dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al Qur’an) dan Rosul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.”

Wallohul Muwaffiq

Do’a adalah ibadah

Tanpa ada keraguan lagi bagi segenap ummat islam bahwa berdoa’ adalah ibadah, bahkan ini adalah nash dari Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam . beliau bersabda :

عن النعمان بن بشير قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : الدعاء هو العبادة

Dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu berkata : “Rosululloh bersabda : “Berdo’a adalah ibadah.”

Bahkan berdoa’ ini adalah sebuah ibadah yang sangat mulia, yang diperintahkan oleh Alloh dan Rosul Nya pada ummat islam. Alloh Ta’ala berfirman (yang artinya):

“Berdoalah kalian kepada Ku, niscaya akan Aku kabulkan.”

Syarat diterimanya ibadah

Kalau sudah diketahui bahwa berdo’a adalah ibadah, maka harus terpenuhi dua syarat diterimanya ibadah, yaitu :

  1. Ikhlash hanya kepada Alloh Ta’ala sajaAlloh Ta’la berfirman :

    “Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Ku dengan ikhlas.”

    (QS. Al Bayyinah : 5)

    Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya.”

    (HR. Bukhori Muslim)

  2. Mengikuti sunnah Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallamAlloh Ta’ala berfirman :

    “Katakanlah : “Jika kamu (benar-benar) mencintai Alloh maka ikutilah aku, niscaya Alloh mencintai dan mengampuni dosa-dosamu.”

    (QS. Ali Imron : 31)

    Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “Barang siapa yang mengamalkan suatu perbuatan yang tidak ada contohnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak.”

    (HR. Muslim 1718)

    Kedua syarat ini terangkum dalam firman Alloh :

    “Barang siapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal sholih dan jangan ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah pada Tuhannya.”

    (QS. Al Kahfi : 110)

    Berkata Imam Ibnu Katsir rahimahullah :

    “Maksud firman Alloh Ta’ala : “Maka hendaklah dia mengerjakan amal sholih.” adalah amal perbuatan yang sesuai dengan sunnah, adapun maksud firman Nya : “Dan jangan ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah.” Yaitu hanya mengharapkan wajah Alloh tiada sekutu bagi Nya. Dua hal ini adalah syarat diterimanya sebuah amal perbuatan, yaitu harus ikhlash dan sesuai dengan ajaran Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam .

    (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/133)

    Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah :

    “Tidak ragu lagi bahwa dzikir dan do’a termasuk ibadah yang mulia, tetapi ibadah itu harus didasarkan dalil dan ittiba’ (mengikuti sunnah) bukan didasari dengan hawa nafsu dan ibtida’ (mengada-adakan sesuatu yang baru). Do’a dan dzikir yang di contohkan oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam itulah yang seharusnya diamalkan. Sebab orang yang mengamalkannya akan memperoleh keamanan dan keselamatan. Sedang dzkir dan do’a selainnya bisa jadi diharamkan, makruh atau bisa jadi terkotori syirik yang sering kali orang tidak memahaminya. Dan tidak boleh bagi seseorang untuk membuat dzikir atau do’a-doa yang tidak di contohkan lalu dijadikannya sebagai ibadah yang diamalkan, seperti halnya sholat. Orang yang mengamalkan dzikir dan do’a bid’ah tersebut tiada lain kecuali orang-orang bodoh, meremehkan atau orang yang berlebih-lebihan.”

    (Lihat Majmu’ Fatawa 22/510-511)

Dalil tentang mengangkat tangan dalam berdo’a

Sangat banyak hadits yang menunjukkan tentang sunnahnya mengangkat tangan saat berdo’a, bahkan sebagian para ulama ada yang mengatakan bahwa haditsnya mencapai derajat mutawatir maknawi. Berkata Imam As Suyuthi :

“Ada sekitar seratus hadits dari Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa beliau mengangkat tangan saat berdo’a, saya telah mengumpulkannya dalam sebuah kitab tersendiri, namun hal itu dalam keadaan yang berbeda-beda. Setiap keadaannya tidaklah mencapai derajat mutawatir, namun titik persamaan antara semuanya yaitu mengangkat tangan saat berdo’a mencapai derajat mutawatir.”

(Tadribur Rowi 2/180)

Namun karena hadist-hadist tersebut banyak yang panjang, maka cukup disini disebutkan letak permaslahan mengenai mengangkat tangannya Rosululloh saat berdoa’. Hadits-hadits tersebut diantaranya adalah :

Imam Bukhori mencantumkan sebuah bab dalam kitab shohih beliau : “Bab mengangkat tanga saat berdo’a.” lalu beliau meriwayatkan beberapa hadits yaitu :

عن أبي موسى الأشعري : دعا النبي صلى الله عليه وسلم ثم رفع يديه ورأيت بياض إبطيه
وقال بن عمر: رفع النبي صلى الله عليه وسلم وقال : اللهم إني أبرأ إليك مما صنع خالد
عن أنس عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه رفع يديه حتى رأيت بياض إبطيه

Dari Abu Musa Al Asy’ari berkata : “Rosululloh berdo’a kemudian beliau mengangkat kedua tangannya, dan saya melihat putih kedua ketiak beliau.”
Dari Ibnu Umar berkata : “Rosululloh mengangkat kedua tangan beliau, lalu beliau berdo’a : “Ya Alloh, saya berlindung darimu atas apa yang diperbuat Kholid.”

(Shohih Bukhori 7/189 secara mu’alllaq)

Dari Anas dari Rosululloh bahwasannya beliau mengangkat tangan beliau sehingga saya melihat putih kedua ketiaknya.”

(Shohih Bukhori no : 6341)

Al Hafidl Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 11/142 mengisyaratkan kepada beberapa hadits mengenai hal ini diantaranya :

Dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu berkata : “Thufail bin Amr datang kepada Rosululloh lalu berkata : “Sesungguhnya Bani Daus telah durhaka, maka berdo’alah kepada Alloh untuk kehancuran mereka.” Maka Rosululloh menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya lalu berkata : “Ya Alloh, berilah hidayah kepada Bani Daus.”

(Adab Mufrod no : 611, hadits ini dalam shohihain tanpa tambahan : “Mengangkat kedua tangannya”)

Dari Jabir bin Abdillah berkata : “Sesungguhnya Thufail bin Amr pergi hijroh…” lalu beliau menyebutkan kisah hijroh beliau bersama seseorang yang bersamanya. Dalam hadits ini terdapat lafadl : “Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a : “Ya Alloh, Ampunilah kedua orang tuanya.” Dan beliau mengangkat kedua tangan beliau.”

(Adabul Mufrod : 614 dengan sanad shohih, Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim : 116 tanpa tambahan : “Mengangkat kedua tangannya.”)

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata : “Sesungguhnya beliau melihat Rosululloh berdo’a sambil mengangkat tangan dan berkata : “Ya Alloh, sesungguhnya saya hanyalah seorang manusia …”

(Adab Mufrod 613, berkata Al Hafidl : “Sanadnya shohih.”)

Al Hafidl Ibnu Hajar juga berkata :

“Diantara hadits-hadits shohih tentang masalah mengangkat tangan dalam berdo’a adalah :

Apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam kitab “Rof’ul Yadain.” 157 : “Saya melihat Rosululloh mengangkat kedua tangan beliau mendo’akan Utsman.”

Imam Muslim 913 meriwayatkan dari Abdur Rohman bin Samuroh tentang kisah sholat gerhana matahari, beliau berkata : “Saya sampai pada Rosululloh , dan saat itu beliau sedang mengangkat tangan berdo’a.”

Juga dari hadits Aisyah tentang sholat gerhana : “Bahwasannya Rosululloh mengangkat tangan saat berdo’a.”

(Shohih Muslim 901)

Juga hadits Aisyah tentang do’a beliau untuk ahli kubur baqi’, beliau berkata : “Rosululloh mengangkat tangannya tiga kali.”

(Shohih Muslim : 973)

Dalam sebuah hadits panjang tentang pembebasan kota Makkah dari Abu Huroiroh bahwasannya Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangannya dan berdo’a

(Shohih Muslim : 1780)

Juga hadits tentang kisah Ibnul Lutbiyyah terdapat kisah : “Kemudian Rosululloh mengangkat kedua tangan beliau sehingga saya melihat putih kedua ketiak beliau. Beliau berkata : “Ya Alloh, bukankah sudah saya sampaikan.”

(Bukhori : 2597, Muslim : 1832)

Hadits Amr bin Ash : “Bahwasannya Rosululloh menyebutkan kisah Nabi Ibrohim dan Isa, maka beliau mengangkat tangannya dan berkata : “Ya Alloh, selamatkanlah ummatku.”

(Muslim : 202)

Dari Usamah bin Zaid berkata : “Saya membonceng Rosululloh di Arafah, lalu beliau mengangkat tangannya berdo’a, lalu unta beliau itu agak miring sehingga jatuh tali pelananya, maka beliau mengambilnya dengan satu tangan sementara beliau masih mengangkat tangan lainnya.” (HR. Nasa’i 5/254 dengan sanad shohih).”

(Lihat Fathul Bari 11/142)

Diantara hadits shohih yang menunjukan masyru’nya mengangkat tangan adalah apa yang diriwayatkan oleh Salman Al Farisi bahwasannya Rosululloh n/ bersabda :

“Sesungghnya Alloh itu Maha Pemalu dan Pemurah, Dia malu terhadap hamba Nya apabila mengangkat tangan berdo’a lalu mengembalikan dengan tangan hampa.”

(HR. Abu Dawud 1488, Turmudli 3556 dengan sanad shohih, lihat Shohihul Jami’ 1753)

Dan masih banyak hadits lainnya, Namun yang disebutkan diatas insya Alloh sudah mencukupi.

Semua hadits tersebut yang mencapai derajat mutawatir maknawi menunjukan bahwa termasuk adab berdo’a adalah mengangkat tangan, bahkan juga termasuk hal-hal yang bisa membuat do’a tersebut dikabulkan oleh Alloh Ta’ala. (Lihat Fiqh Al Ad’iyah wal Adzkar Oleh Syaikh Abdur Rozzaq Al Abbad 2/175)

Berkata Imam Syaukani rahimahullah :

“Yang menunjukkan atas di syariatkannya mengangkat tangan saat berdo’a adalah apa yang dilakukan oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam sekitar tiga puluh tempat dalam berbagai macam do’a bahwa beliau mengangkat tangan.”

(Lihat Tuhfatudz Dzakirin hal : 36)

Berkata Imam Ibnu Rojab rahimahullah :

“Mengangkat tangan adalah termasuk salah satu adab dalam berdo’a, yang itu bisa membuat do’a mustajabah.”

(Lihat Jami’ Ulum Wal Hikam 1/253)

Dalam Kitab Ad Duror As Sunniyah fil Ajwibah An Najdiyah 4/158 disebutkan bahwa Syaikh Sa’id bin Haji tatkala ditanya tentang mengangkat tangan dalam berdo’a beliau menjawab :

“Banyak hadits yang menunjukkan disunnahkannya mengangkat tangan saat berdo’a, tidak ada yang mengingkari hal ini kecuali orang yang bodoh.”

Cara mengangkat tangan saat berdo’a

Setelah kita memahami bahwa mengangkat tangan saat berdo’a itu sunnah Rosululloh, maka sekarang bagaimana cara mengangkat tangan tersebut ?

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dengan sanad yang shohih baik secara marfu’ maupun mauquf berkata :

“Berdo’a untuk meminta sesuatu adalah dengan cara engkau mengangkat kedua tanganmu sejajar dengan pundak, adapun kalau saat beristighfar maka engkau mengisyaratkan dengan satu jari, adapun kalau meminta sesuatu dalam keadaan sangat kepepet maka engkau angkat semua tanganmu keatas.”

(HR. Abu Dawud : 1489, Thobroni dalam kitab du’a : 208, dishohihkan oleh Imam Al Albani dalam Shohih Sunan Abu Dawud : 1321)

Berkata Syaikh Bakr Abu Zaid mengomentari hadits Ibnu Abbas tersebut :

“Telah datang beberapa hadits dari perbuatan Rosululloh yang menerangkan keadaan setiap doa’, yaitu :

  1. Keadaan berdo’a untuk meminta sesuatu maka caranya mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua pundak dengan mengumpulkan kedua telapak tangannya, membentangkan bagian depan telapak tangannya ke arah langit dan punggungnya ke arah bumi, dan kalau dikehendaki bisa dihadapkan ke arah wajahnya sedangkan punggungnya menghadap kiblat. Ini adalah cara mengangkat tangan yang biasa dilakukan dalam do’a, witir, istisqo’ dan saat-saat do’a pada waktu menjalankan ibadah haji yaitu di Arafah, Masy’aril Haram, setelah melempar jumroh aqobah wushtho dan shughro serta saat berada diatas bukit shofa dan marwa juga do’a-do’a lainnya.
  2. Tatkala istighfar, caranya dengan mengangkat jari telunjuk tangan kanan. Cara ini khusus dilakukan saat dzikir dan berdo’a saat khutbah, juga saat tasyahud serta saat berdzikir, memuji dan mengagungkan Alloh Ta’ala di luar sholat.
  3. Saat benar-benar merendahkan diri pada Alloh Ta’ala untuk meminta sesuatu dengan sangat atau dalam keadaan sangat kepepet. Caranya adalah dengan mengangkat seluruh tangan ke langit sehingga bisa dilihat putih ketiaknya karena saking tingginya saat mengangkat tangan. cara ini lebih khusus dari pada dua cara sebelumnya, dan hanya digunakan untuk saat-saat genting dan rumit, seperti masa paceklik, diserang musuh, ada musibah atau lainnya.

Ketiga cara ini harus digunakan pada saatnya yag tepat.”

(Lihat Tashhihud du’a oleh Syaikh Bakr Abu Zaid hal : 116 dengan sedikit perubahan)

Berkata Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah :

“Mengangkat tangan saat berdo’a ada tiga macam, yaitu :

  1. Yang jelas ada sunnahnya dari Rosululloh, maka ini disunnahkan mengangkat tangan saat berdo’a tersebut. Misal saat istisqo’, berdo’a saat diatas bukit shofa dan marwa serta lainnya.
  2. Yang jelas tidak ada sunahnya, maka tidak boleh mengangkat tangan. Seperti berdo’a saat sholat dan tasyahud akhir.
  3. Yang tidak ada dalilnya secara langsung, apakah mengangkat tangan ataukah tidak, maka hukumnya pada dasarnya termasuk adab berdo’a adalah mengangkat tangan.”

(Liqo’ Bab Maftuh hal : 17,18)

Faedah yng dipetik dari syariat mengangkat tangan saat berdo’a

Semua syariat Alloh Ta’ala pasti mengandung hikmah yang sangat tinggi tak terbatas. Akal pikiran kita terlalu lemah untuk bisa mengungkap hikmah dibalik semua syariat yang ditetapkan Alloh Ta’ala dan Rosul Nya. Cukuplah bagi kita merupakan sebuah keutamaan kalau kita bisa mengungkap sebagiannya.

Berkata Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah :

“Jika engkau perhatikan hikmah yang menakjubkan dari syariat agama islam ini, tidak ada untaian kalimat yang bisa menerangkannya dan tidak ada satu pun akal yang bisa mengusulkan sebuah syariat yang lebih sempurna darinya, maka cukuplah sebagai sebuah kesempurnaan akal kalau dia mengetahui keagungan dan keutamaannya.”

(Miftah Darus Sa’adah 2/308)

Diantara makna dan hikmah yang tersembunyi dibalik syariat angkat tangan dalam berdo’a ini adalah :

  1. Menunjukkan kerendahan, hajat dan kebutuhan dirinya pada Alloh Ta’ala, yang dengan ini seseorang akan bertambah khusu’ dalam do’anya dan itu merupakan sebab diterimanya do’aAlloh Ta’ala berfirman :

    “Wahai sekalian manusia, kalian adalah faqir (membutuhkan) Alloh dan Alloh Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

    (QS. Fahir : 15)

    Berkata Imam As Safarini :

    “Berkata para ulama’ : “Disyariatkannya mengangkat tangan dalam berdo’a adalah supaya lebih merendahkan diri pada Alloh, yang dengannya dia akan bisa benar-benar tadlorru’ dalam beribadah kepada Alloh. Juga terkadang seseorang itu tidak mampu untuk membangkitkan hatinya dari kelalaian, maka dia bisa lakukan dengan penggabungan tangan dengan lisan, ini semua adalah salah satu cara untuk menuju khusu’nya hati.”

    (Lihat Syarah Tsulatsiyat Musnad 1/655)

  2. Dalam mengangkat tangan terdapat makna bahwa Alloh adalah Dzat yang mengatur alam semesta, dan berbuat sekehandak Nya. Oleh karena itulah Dia berhak di ibadahi dan dimintai serta direndahkan diri pada Nya dengan serendah-rendahnya, karena memang barang siapa yang meyombong pada Nya akan memperoleh kehinaan dan yang orang yang merasa cukup dengan keutamaan Nya akan memperoleh kefaqiran.
  3. Dalam mengangkat tangan juga menunjukkan bahwa Alloh Dzat yang Maha Pengasih dan Pemurah, yang akan mengabulkan semua permintaan hamba Nya, tidak ada dosa yang tidak bisa diampuni oleh Nya, tidak ada kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi Nya, oleh karena itu Alloh Malu melihat hamba Nya yang mengangkat tangan pada Nya kemudian mengembalikannya dalam keadaan hampa, sebagaimana yang disebutkan oleh Rosululloh.
  4. Mengangkat tangan saat berdo’a menunjukkan bahwa Alloh berada di atas , tepatnya di Arsy di atas langit ke tujuh. Pembahasan ini insya Alloh kita bahas pada edisi berikutnya

.

Kesimpulan

Dari pembahasan diatas dapat kita ambil beberapa kesimpulan, yaitu :

  1. Do’a adalah ibadah
  2. Syarat diterimanya ibadah ada dua, yaitu ikhlas dan mutaba’ah (mengikut sunnah Rosululloh )
  3. Hadits yang menunjukan mengangkat tangan dalam berdo’a mutawatir maknawi
  4. Cara mengangkat tangan dalam berdo’a ada tiga, sebagaimana perincian diatas
  5. Banyak hikmah yang diambil dari syariat mengangkat tangan saat berdo’a.

Namun pembahasan ini masih menyisakan beberapa permasalahan, diantaranya :

  1. Apakah dengan disunnahkannya mengangkat tangan ini berarti setiap kali berdo’a dan disegala tempat dan keadaan juga disunnahkan mengangkat tangan, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian kaum musimin ? ataukah butuh perincian ?
  2. Lalu bagaimana dengan beberapa hadits yang kayaknya mengatakan bahwa mengangkat tangan hanya pada do’a minta hujan saja ? seperti hadits Anas bin Malik?
  3. Dan beberapa masalah lainnya.

Insya Alloh Ta’ala juga akan kita bahas pada edisi mendatang, semoga Alloh memudahkan.

Akhirnya saya hanya bisa mengajak ummat islam agar memahami masalah ini sesuai dengan pokok dasar kita Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman salaful ummah. Semoga Alloh Ta’ala selalu membimbing kita untuk tetap berada di jalan Nya.
Wallohu A’lam

(Sumber : http://www.ahmadsabiq.com)

Penulis: abu ubaidah

الفقير إللى مغفرة ربّي

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s